Selasa, 12 Juli 2016

KELOMPOK ILMIAH REMAJA (KIR) : BELAJAR, BERKARYA DAN BERINOVASI

By : Idha Nurhayati, S.Pd.
- DOWNLOAD :   MODUL  KIR  2016

“Tak kenal maka tak sayang, salah kenal cinta melayang”, Peribahasa tersebut pantas kiranya menjadi satu alasan mengapa kita harus mengenal KIR ( Kelompok ilmiah remaja). KIR adalah kelompok remaja yang melakukan serangkaian kegiatan untuk menghasilkan karya ilmiah. KIR merupakan salah satu Ekstrakurikuler yang sangat tepat untuk siswa yang kreatif dan selalu ingin mencoba hal yang baru. Kegiatan ini mengajarkan bagaimana caranya kita dalam melakukan sebuah penelitian beserta percobaan dan eksperimennya. Selain itu kegiatan ini juga mengajarkan kita dalam penyusunan untuk membuat sebuah karya tulis dan membuat sebuah laporan. Kegiatan ini sering kali turun ke lapangan secara langsung. selain itu cakupan daerah yang menjadi lapangannya sangatlah luas dan tidak terbatas. Bisa dalam bidang bahasa, sosial, Pengetahuan Tekhnologi ataupun tentang sains. ruang lingkup yang digunakan dalam kegiatan ini sangatlah bervariatif.
KIR merupakan kegiatan yang menuntut kreatifitas dari para siswa.Selain itu kegiatan ini juga menuntut kita untuk berpikir luas dan tidak berpikir sempit dalam menyelesaikan suatu masalah. Karena kegiatan ini memerlukan ketekunan, keuletan, kerajinan serta kesabaran dari para pesertanya. Kegiatan ini sangatlah pantas diikuti oleh para remaja untuk menumbuhkan kreatifitas pribadi kita dan untuk menambahkan wawasan kita dalam melihat dan memandang luasnya dunia.

MENGAPA BUDAYA PENELITIAN ILMIAH PERLU DIKEMBANGKAN
Proses pendidikan (di sekolah) bertujuan untuk meningkatkan potensi peserta didik secara berkelanjutan agar dapat bermanfaat seluas-luasnya bagi kemaslahatan umat manusia dan alam semesta. Salah satu potensi yang penting untuk dimiliki seseorang agar dapat memberikan manfaat yang luas adalah kecakapan di dalam berfikir, bersikap dan berkarya ilmiah. Kecakapan tersebut dapat dibangun melalui berbagai cara, salah satunya yang utama adalah melalui kegiatan penelitian ilmiah.
Setiap orang pasti akan menghadapi masalah di dalam kehidupanya. Cara terbaik dan paling menguntungkan untuk menghadapi masalah adalah menyelsaikanya..Kecakapan berfikir, bersikap dan berkarya ilmiah sangat dibutuhkan didalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan..
Secara luas, alasan mengapa budaya penelitian ilmiah perlu dikembangkan, adalah keprihatinan kita terhadap sepinya dunia penelitian di Indonesia. Menurut laporan UNESCO (2010) : Finlandia adalah Negara dengan rasio jumlah peneliti tetinggi di dunia, yaitu 7.382 peneliti persejuta penduduk, Selandia Baru (7.084 per sejuta), Jepang(6.480 per sejuta), singapura (6.088 per sejuta), Malaysia (372 per sejuta), Thailand (311 per sejuta) sedangkan Indonesia hanya memiliki 162 peneliti per sejuta penduduk. Jelas posisi Indonesia di bidang penelitian masih sangat jauh terpuruk di bandingkan dengan negara-negara lain di dunia.Membudayakan penelitian Ilmiah di sekolah memang perlu, dalam upaya membangun generasi peneliti yang tangguh agar Indonesia tidak tertinggal dengan Negara-negara lain di dunia.
KIR SMA NEGERI 1 PATI
Keberadaan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) di SMA Negeri 1 Pati di mulai sejak tahun 1980. Dalam perjalananya, KIR SMA Negeri 1 Pati telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah yang kreatif dan inovatif. Tercatat prestasi KIR SMA Negeri 1 Pati dalam 3 tahun terakhir sebagai berikut :
Daftar prestasi SMA Negeri 1 Pati dalam bidang Penelitian
NO
NAMA KEJUARAAN
TINGKAT
PRESTASI
TEMPAT DAN WAKTU
1
Lomba Karya Inovasi Teknologi INDIKATAMA ITS 2014
 a.n : Ineke Intania
Nasional
JUARA FAVORIT
Kampus ITS Surabaya
6 Desember 2014
2
Gelar Inovasi dan Prestasi Siswa SMA Propinsi Jawa Tengah
a.n :Team SMAN 1 Pati
Propinsi Jawa Tengah
JUARA III
PRPP Jawa Tengah
14-17 Mei 2012
3
Research Project Presentation, English Camp Siswa SMA RSBI Propinsi Jawa Tengah Tahun 2012
a.n : Erna Nur Fitria
Propinsi Jawa Tengah
JUARA HARAPAN I
Pondok Remaja Salib Purih, Salatiga
11-14 Juni 2012
4
Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja dalam Rangka Hari Air Sedunia XXI Tingkat SMA Propinsi Jawa Tengah
 a.n : M. Annis Wichi L.
Propinsi Jawa Tengah
JUARA I
Dinas PSDA, Kementrian PU Semarang
13 juni 2013
5
Research Project Presentation, Student Camp Siswa SMA RSBI Propinsi Jawa Tengah Tahun 2012
 a.n : Erna Nur Fitria
Propinsi Jawa Tengah
JUARA I
Pondok Remaja Salib Purih, Salatiga
21-24 Oktober 2013
6
Lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Bidang Sains Terapan, Tingkat Propinsi Jawa Tengah   a.n : Maulia Zahro H. Dan Dian Lucky Kartikasari
Propinsi Jawa Tengah
JUARA I
Yayasan Bina Darma, Bugel Salatiga
22-25 Oktober 2013
7
Lomba Teknologi Penataan Ruang
a.n : Prima Luthfi K.
Propinsi Jawa Tengah
JUARA II
Dinas Cipta Karya dan Tata Jaw Tengah Semarang
7 Nopember 2013
8
Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja dalam Rangka Hari Air Sedunia XXII Tingkat SMA Propinsi Jawa Tengah
a.n : Ade Kartika Putri
Propinsi Jawa Tengah
JUARA I
Dinas PSDA, Kementrian Pekerjaan Umum Semarang
1 Oktober 2014
9
Research Project Presentation, Student Camp Siswa SMA RSBI Propinsi Jawa Tengah Tahun 2014
a.n : Ilham Dary Athallah
Propinsi Jawa Tengah
JUARA II
Green  Valley  Bandungan Semarang
12 – 15 Agustus 2014
10
Lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Bidang Sains Terapan, Tingkat Kabupaten Pati
a.n : Maulia Zahro H. Dan Dian Lucky Kartikasari
Kabupaten Pati
JUARA I
Dinas Pendidkan Kabupaten Pati
10 Oktober 2013
12
Lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Bidang Sains Dasar, Tingkat Kabupaten Pati
a.n : Fina Alvia Rahma
Kabupaten Pati
JUARA I
Dinas Pendidkan Kabupaten Pati
5 Nopember 2014
13
Lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Bidang Sains Terapan, Tingkat Kabupaten Pati
 a.n : Ineke Intania
Kabupaten Pati
JUARA I
Dinas Pendidkan Kabupaten Pati
5 Nopember 2014
14
Lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Bidang IPS dan Humaniora, Tingkat Kabupaten Pati
a.n : Neki Reilena dan Tiara Rimadani Putri
Kabupaten Pati
JUARA I
Dinas Pendidkan Kabupaten Pati
5 Nopember 2014

Dari prestasi-prestasi yang telah diperoleh, menjadikan motivasi bagi siswa-siswa SMA Negeri 1 Pati untuk terus berpacu menggali ide-ide kreatif dan inovatif dalam penelitianya.
Hingga saat ini KIR SMANSAPATI masih menjadi salah satu kegiatan ektrakurikuler yang cukup diminati. Dibawah bimbingan Ibu Idha Nurhayati (pembimbing IPA), Bapak Amal Hamzah (pembimbing IPS), Ibu Susilowati dan Bapak Hariyanto ( bidang kebahasaan) para siswa terus berkarya. Bapak – Ibu pembimbing akan selalu siap untuk berperan sebagai teladan,motivator dan fasilitator. Pembimbingan dilakukan secara intensif, baik bimbingan teoritis maupun bimbingan praktis. 
          Siapa ingin ke Azerbaijan…?! Mari bergabung dalam KIR SMA Negeri 1 Pati, Pasti biisaa…!! “Kesempatan emas seringkali dilewatkan banyak orang karena selintas terlihat seperti hal yang biasa-biasa dan sepele saja”(Thomas Alva Edison)

Selasa, 28 Juni 2016

H I D R O C A R B O N

A.    Kekhasan / Keunikan Atom Karbon
o  Terletak pada golongan IVA dengan Z = 6 dan mempunyai 4 elektron valensi.
o  Untuk mencapai konfigurasi oktet maka atom karbon mempunyai kemampuan membentuk 4 ikatan kovalen yang relatif kuat.
o  Atom karbon dapat membentuk ikatan antar karbon; berupa ikatan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga.
o  Atom karbon mempunyai kemampuan membentuk rantai (ikatan yang panjang).
o  Rantai karbon yang terbentuk dapat bervariasi yaitu : rantai lurus, bercabang dan melingkar (siklik).
B.    Kedudukan Atom Karbon
Dalam senyawa hidrokarbon, kedudukan atom karbon dapat dibedakan sebagai berikut :
·     Atom C primer       :  atom C yang mengikat langsung 1 atom C yang lain
·     Atom C sekunder  :  atom C yang mengikat langsung 2 atom C yang lain
·     Atom C tersier       :  atom C yang mengikat langsung 3 atom C yang lain
·     Atom C kuarterner   :   atom C yang mengikat langsung 4 atom C yang lain


Keterangan :
1o  = atom C primer ( ada 5 )
2o  = atom C sekunder ( ada 3 )
3o  = atom C tersier ( ada 1 )
4o  = atom C kuarterner ( ada 1 )
C.    Klasifikasi / Penggolongan Hidrokarbon (terdiri dari atom C dan H)
a.    Berdasarkan jenis ikatan antar atom karbonnya :
- Hidrokarbon jenuh      = senyawa hidrokarbon yang ikatan antar atom karbonnya merupakan ikatan tunggal.
- Hidrokarbon tak jenuh = senyawa hidrokarbon yang memiliki 1 ikatan rangkap dua (alkena) atau lebih dari 1 ikatan rangkap dua (alkadiena), atau ikatan rangkap tiga (alkuna).
b.    Berdasarkan bentuk rantai karbonnya :
-  Hidrokarbon alifatik     = senyawa hidrokarbon dengan rantai terbuka jenuh (ikatan tunggal) maupun tidak jenuh (ikatan rangkap).
-  Hidrokarbon alisiklik    = senyawa hidrokarbon dengan rantai melingkar / tertutup (cincin).
-  Hidrokarbon aromatik = senyawa hidrokarbon dengan rantai melingkar (cincin) yang mempunyai ikatan antar atom C tunggal dan rangkap secara selang-seling / bergantian (konjugasi).


Daftar pustaka :
www.chem-is-try.org

A L K A N A

Alkana Adalah hidrokarbon alifatik jenuh yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan antar atom karbonnya merupakan ikatan tunggal.
o  Rumus umum alkana yaitu : CnH2n+2 ; n = jumlah atom C

Deret Homolog Alkana
Adalah suatu golongan / kelompok senyawa karbon dengan rumus umum yang sama, mempunyai sifat yang mirip dan antar suku-suku berturutannya mempunyai beda CH2.

Nama - nama deret homolog Alkana :
ALKANA ( Rantai Induk )
Rumus Kimia
Nama Alkana
C H4
Metana
C2 H6
Etana
C3 H8
Propana
C4 H10
Butana
C5 H12
Pentana
C6 H14
Heksana
C7 H16
Heptana
C8 H18
Oktana
C9 H20
Nonana
C10 H22
Dekana

Sifat-sifat deret homolog :
o   Mempunyai sifat kimia yang mirip
o   Mempunyai rumus umum yang sama
o   Perbedaan Mr (massa molekul relatif) antara 2 suku berturutan = 14
o   Makin panjang rantai karbon, makin tinggi titik didihnya

Tata Nama Alkana
Berdasarkan aturan dari IUPAC ( nama sistematis ) :
1)   Nama alkana bercabang terdiri dari 2 bagian :
o  Bagian pertama (di bagian depan) merupakan nama cabang
o  Bagian kedua (di bagian belakang) merupakan nama rantai induk
2)   Rantai induk adalah rantai terpanjang dalam molekul. Jika terdapat 2 atau lebih rantai terpanjang, maka harus dipilih yang mempunyai cabang terbanyak.
3)   Rantai induk diberi nama alkana sesuai dengan panjang rantai ( tabel 7.3 halaman 50 )
4)   Cabang diberi nama alkil yaitu nama alkana yang sesuai, tetapi dengan mengganti akhiran –ana menjadi –il. Gugus alkil mempunyai rumus umum : CnH2n+1 dan dilambangkan dengan R
5)   Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Untuk itu rantai induk perlu dinomori. Penomoran dimulai dari salah 1 ujung rantai induk sedemikian rupa sehingga posisi cabang mendapat nomor terkecil.
6)   Jika terdapat 2 atau lebih cabang sejenis, harus dinyatakan dengan awalan di, tri, tetra, penta dst.
7)   Cabang-cabang yang berbeda disusun sesuai dengan urutan abjad dari nama cabang tersebut. Awalan normal, sekunder dan tersier diabaikan. Jadi n-butil, sek-butil dan ters-butil dianggap berawalan b-.
o  Awalan iso- tidak diabaikan. Jadi isopropil berawal dengan huruf i- .
o  Awalan normal, sekunder dan tersier harus ditulis dengan huruf cetak miring.
8)   Jika penomoran ekivalen (sama) dari kedua ujung rantai induk, maka harus dipilih sehingga cabang yang harus ditulis terlebih dahulu mendapat nomor terkecil.
Kesimpulan :
Berdasarkan aturan-aturan tersebut di atas, penamaan alkana bercabang dapat dilakukan dengan 3 langkah sebagai berikut :
1)   Memilih rantai induk, yaitu rantai terpanjang yang mempunyai cabang                terbanyak.
2)   Penomoran, dimulai dari salah 1 ujung sehingga cabang mendapat nomor          terkecil.
3) Penulisan nama, dimulai dengan nama cabang sesuai urutan abjad, dan diakhiri dengan nama rantai induk. Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Antara angka dengan angka dipisahkan dengan tanda koma (,) antara angka dengan huruf dipisahkan tanda jeda (-).

Sumber dan Kegunaan Alkana
Alkana adalah komponen utama dari gas alam dan minyak bumi.
Kegunaan alkana, sebagai :
·     Bahan bakar
·     Pelarut
·     Sumber hidrogen
·     Pelumas
·     Bahan baku untuk senyawa organik lain
·     Bahan baku industry

a. Sifat Fisika Alkana
1) Semua hidrokarbon merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air. Jika suatu hidrokarbon bercampur dengan air, maka lapisan hidrokarbon selalu di atas sebab massa jenisnya lebih kecil daripada 1. Pelarut yang baik untuk hidrokarbon adalah pelarut nonpolar, seperti CCl4 atau atau sedikit polar (dietil eter atau benzena).
2) Alkana mudah larut dalam pelarut organik.
Semakin bertambah jumlah atom C maka Mr ikut bertambah akibatnya titik didih dan titik leleh semakin tinggi. Alkana rantai lurus mempunyai titik didih lebih tinggi dibanding alkana rantai bercabang dengan jumlah atom C sama. Semakin banyak cabang, titik didih makin rendah.
3) Pada suhu dan tekanan biasa, empat alkana yang pertama (CH4 sampai C4H10  berwujud gas. Pentana (C5H12) sampai heptadekana (C17H36) berwujud cair, sedangkan oktadekana (C18H38) dan seterusnya berwujud padat. Alkana lebih ringan dari air.

b. Sifat Kimia Alkana
1) Alkana dan sikloalkana tidak reaktif, cukup stabil apabila dibandingkan dengan senyawa organik lainnya. Oleh karena kurang reaktif, alkana kadang disebut paraffin (berasal dari bahasa Latin: parum affins, yang artinya "afinitas kecil sekali").
2) Pembakaran/oksidasi alkana bersifat eksotermik (menghasilkan kalor). Pembakaran alkana berlangsung sempurna dan tidak sempurna. Pembakaran sempurna menghasilkan gas CO2 sedang pembakaran tidak sempurna menghasilkan gas CO. Itulah sebabnya alkana digunakan sebagai bahan bakar. Secara rata-rata, oksidasi 1 gram alkana menghasilkan energi sebesar 50.000 joule.
Reaksi pembakaran sempurna :
CH4(g) + 2 O2(g)  CO2(g) + 2 H2O(g) + Energi
Reaksi pembakaran tak sempurna:
2 CH4(g) + 3 O2(g)  2 CO(g) + 4 H2O(g) + Energi
3) Jika direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, dan I2), maka atom-atom H pada alkana mudah mengalami substitusi (penukaran) oleh atom-atom halogen.
CH4 + Cl2 → CH3Cl (metilklorida (klorometana)) + HCl
CH3Cl + Cl2 → CH2Cl2 (diklorometana) + HCl
CH2Cl2 + Cl2→ CHCl3 (kloroform (triklorometana)) + HCl
CHCl3 + Cl2 → CCl4 (karbon tetraklorida) + HCl
4)Senyawa alkana rantai panjang dapat mengalami reaksi eliminasi. Reaksi eliminasi adalah reaksi penghilangan atom/gugus atom untuk memperoleh senyawa karbon lebih sederhana. [1] Contoh pada 
reaksi eliminasi termal minyak bumi dan gas alam.



800 - 900 oC



CH3 - CH2 - CH3
CH3 - CH = CH2 + H2


propana

propena








800 - 900 oC



CH3 - CH2 - CH3
CH2 = CH2
+
CH4
propana
 

etena

metana